Kamis, 07 Januari 2021

PAI - Tauladan Kesabaran Dalam Mengajari Ilmu

 


*PAK/BU GURU BACA SEJENAK*


🔵Baru Terungkap, Ternyata Imam Syafi'i memiliki Murid "Slow Learner" dan Begini Cara Mengajarnya.🔴 

_____


Sangat mengesankan pada apa yang ditulis oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, bagaimana cara Imam Syafii, sebagai guru mengajar salah satu muridnya yang sangat lamban dalam memahami pelajaran.


Sang Murid itu adalah Ar Rabi’ bin Sulaiman, murid paling slow learner. Berkali-kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi Robi’tak juga faham. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya,

“Rabi’ Sudah faham paham belum ?”

“Belum faham, ”jawab Rabi’.


Dengan kesabaranya, sang guru mengulang lagi pelajaranya,lalu ditanya kembali, ”sudah faham belum? Belum.

Berulang diterangkan sampai 39x Rabi’ tak juga paham.


Merasa mengecewakan gurunya dan juga malu, Rabi’ beringsut pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Selesai memberi pelajaran Imam Syafii mencari Robi’, melihat muridnya. Imam Syafi'i berkata, ”Robi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya !”.


Sebagai seorang guru, sang imam sangat memahami perasaan muridnya, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara privat.

Sang Imam mengajarkan Rabi’ secara privat, dan ditanya kembali, ”Sudah paham belum ?

Hasilnya? Rabi’ bin Sulaiman tidak juga paham.


Apakah Imam Asy-Syafi’i berputus asa?

Menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh? Sekali-kali tidak. Beliau berkata,  


”Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”


Mengikuti nasihat gurunya, Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat berdoa kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.


Tahukah kita? Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i dan termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya. 


Sang slow learner bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar.

Inilah buah dari kesabaran Imam Asy-Syafi’i dalam mengajar dan mendidik.


Adakah kita, para guru dan orangtua bisa meneladani kesabaran Imam Syafii dalam mengajar ?


Berapa kuat kita meyakini bahwa tidak ada anak dan murid yang bodoh?


*Sudahkan kita, para guru dan orangtua mendoakan anak-anak dan murid didik kita agar difahamkan pelajaran*?


*Sudahkan kita, para guru dan orangtua Memotivasi anak murid kita agar gigih berdoa kepada Allah Taala*?


#

https://www.sindonews.com/topic/4281/kisah-kisah-imam-syafii



Selasa, 05 Januari 2021

SEMSETER I ( PGSD )_ Landasan Pendidikan

  


A. Pengertian Landasan Pendidikan 

     Sumber: https://www.qureta.com/uploads/post/pendidikan.jpg

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan;

Landasan :  alas/bantalan/paron/tempat mendarat dan bertaplak/dasar/tumpuan

Pendidikan : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan/proses/cara/perbuatan mendidik.

  

   Secara leksikal, landasan berarti tumpuan, dasar atau alas, karena itu landasan merupakan tempat bertumpu atau titik tolak atau dasar pijakan. Titik tolak atau dasar pijakan ini dapat bersifat material (contoh: landasan pesawat terbang); dapat pula bersifat konseptual (contoh: landasan pendidikan). Landasan yang bersifat koseptual identik dengan asumsi, adapun asumsi dapat dibedakan menjadi tiga macam asumsi, yaitu aksioma, postulat dan premis tersembunyi.   

    Landasan pendidikan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak dalam rangka praktik pendidikan dan atau studi pendidikan.

B.Pengertian Landasan Pendidikan  Menurut Para Ahli


Beberapa pengertian landasan pendidikan menurut para ahli, yaitu:

TatangSyarifudin

Landasan pendidikan adalah seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Karena dalam pendidikan mestiter dapat studi pendidikan dan praktek pendidikan, maka istilah landasan pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan/atau studi pendidikan.

Suyitno(2009:5)

Landasan terdapat dua jenis:

o Landasan bersifat material, yaitu yang mengarah pada bentuk fisik atau bangunan.

o Landasan bersifat konseptual, yaitu mengarah pada konsep atau teori.


    

C.Jenis – jenis Landasan Pendidikan


1. Landasan Filosofis.

         Landasan Filosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok seperti: 

Apakah pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diperlukan,apa  yang seharusnya menjadi tujuannya, dan sebagainya.

        Landasan filosofis adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat (falsafat, falsafah). Kata filsafat (philosophy) bersumber dari bahasaYunani, philein berarti mencintai, dan sophos atau sophis berarti hikmah, arif, atau bijaksana. Filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual yang menghasilkan konsepsi-kosnsepsi mengenai kehidupan dan dunia. Konsepsi-konsepsi silosofis tentang kehidupan manusia dan dunianya pada umumnya bersumber dari dua faktor, yaitu:

a. Religi dan etika yang bertumpu pada keyakinan

b.Ilmu pengetahuan yang mengandalkan penalaran. 

       Filsafat berada dianatara keduanya: Kawasannya seluas religi, namun lebih dekat dengan ilmu pengetahuan karena filsafat timbul dari keraguan dan karena mengandalkan akal manusia.

     Tinjauan filosofis tentang sesuatu, termasuk pendidikan, berarti berpikir bebas serta merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang sesuatu itu. 

Penggunaan istilah filsafat dapat dalam dua pendekatan, yakni:

    Filsafat sebagai kelanjutan dari berpikir ilmiah, yang dapat dilakukan oleh setiap orang serta sangat bermanfaat dalam memberi makna kepada ilmu pengetahuannya itu.

    Filsafat sebagai kajian khusus yang formal, yang mencakup logika, epistemology (tentang benar dan salah), etika (tentang baik dan buruk), estetika (tentang indah dan jelek), metafisika (tentang hakikat yang “ada”, termasuk akal itu sendiri), serta social dan politik (filsafat pemerintahan).

    Kajian-kajian yang dilakukan oleh berbagai cabang filsafat (logika,epistemology, etika, dan estetika, metafisika dan lain-lain) akan besar pengaruhnya terhadap pendidikan, karena prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran hasil kajian tersebut pada umumnya diterapkan dalam bidang pendidikan. Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain tentang:

     Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai mahluk didunia ini,seperti yang disimpulkan sebagai zoon politicon, homo sapiens, animal educandum, dan sebagainya.

c.  Masyarakat dan kebudayaannya.

      Keterbatasan manusia sebagai mahluk hidup yang banyak menghadapi tantangan; dan Perlunya landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat pendidikan. Hasil-hasil kajian filsafat tersebut, utamanya tentang konsepsi manusia dan dunianya, sangat besar pengaruhnya 

terhadap pendidikan. Beberapa aliran filsafat yaitu sebagai berikut:


1) Naturalisme

     Naturalisme merupakan aliran filsafat yang menganggap segala kenyataan yang bisa ditangkap oleh panca indera sebagai kebenaran yang sebenarnya. Aliran ini biasa pula diberi nama yang berbeda sesuai dengan variasi penekanan konsepsinya tentang manusia dan dunianya.


2) Idealisme

     Berbeda dengan aliran diatas, Idealisme menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan. Apa yang dianggap kebenaran realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide sebagai 

kebenaran bersifat spiritual atau mental. Ide sebagai gagasan kejiwaan itulah sebagai kebenaran atau nilai sejati yang absolute dan abadi.


3) Pragmatisme

      Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harus dinilai dari segi nilai kegunaan praktis; dengan kata lain, paham ini menyatakan yang berfaedah itu harus benar, atau ukuran kebenaran didasarkan pda kemanfaatan dari sesuatu itu harus benar.Atau ukuran kebenaran didasarkan kepada kemanfaatan dari sesuatu itu kepada manusia.John Dewey, salah seorang tokoh pragmatisme,mengemukakan bahwa penerapan konsep pragmatisme secara 

eksperimental melalui lima tahap :

    Situasi tak tentu (indeterminate situation), yakni timbulnya situasi ketegangan didalam pengalaman yang perlu dijabarkan secara spesifik.Diagnosi, yakni mempertajam masalah termasuk perkiraan faktor penyebabnya.Hipotesis,yakni penemuan gagasan yang diperkiarakandapat mengatasi masalah. Pengujian hipotesis, yakni pelaksanaan 

berbagai hipotesis dan membandingkan hasilnya serta implikasinya masing-masing jika dipraktikkan. Evaluasi, yakni mempertimbangkan hasilnya setelah hipotesis terbaik dilaksanakan.

  Oleh karena itu, bagi paragtisme, pendidikan adalah suatu proses eksperimental dan metode mengajar yang penting adalah metode pemecahan masalah. Pengaruh aliran paragtisme tersebut bahkan terwujud dalam gerakan pendidikan progresif atau progresivisme sebagai bagian dari suatu gerakan reformasi sosiopolitik pada akhir abad XIX dan awal abad XX di Amerika Serikat.Progresivisme menentang pendidikan tradisionalis serta mengembangkan teori pendidikan dengan prinsip-prinsip antara lain:

a) Anak harus bebas agar dapat berkembang wajar.

b) Menumbuhkan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar.

 c) Guru harus menjadi peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.

d) Harus ada kerja sama sekolah dan rumah.

e) Sekolah progresif harus merupakan suatu laboraturium untuk melakukan eksperimentasi. Selanjutnya perlu dikemukakan secara ringkas empat mazhab filsafat pendidikan yang besar pengaruhnya dalam pemikiran dan penyelenggaraan pendidikan. Keempat mazhab filsafat pendidikan itu.

4) Esensialisme

       Esensialisme merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip idealisme dan realisme secara eklektis. Berdasarkan eklektisisme tersebut tersebut maka esensialisme tersebut menitik beratkan penerapan prinsip idealisme atau realisme dengan tidak meleburkan prinsip-prinsipnya. Filsafat idealisme memberikan dasar tinjauan yang realistic. Matematika yang sangat diutamakan idealisme, juga penting artinya bagi filsafat realism, karena matematika adalah alat menghitung penjumlahan dari apa-apa yang riil, materiil dan nyata.

      Menurut Mazhab ensesialisme, yang termasuk the liberalarts, yaitu:

a) Penguasaan bahasa termasuk rerorika

b) Gramatika

c) Kesusateraan

d) Filsafat

e) Ilmu kealaman

f) Matematika

g) Sejarah

h) Seni keindahan (fine arts)

5) Perenialisme

    Ada persama antara perenialisme dan esensialisme, yakni keduanya membela kurikulum tradisional yang berpusat pada mata pelajaran yang poko-pokok (subject centered). Perbedaannya ialah perenialisme menekankan keabadian teori kehikamatan, yaitu:

a) Pengetahuan yang benar (truth)

b) Keindahan (beauty)

c) Kecintaan kepada kebaikan (goodness)

     Oleh karena itu dinamakan perenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan atau perennial. Prinsip pendidikan antara lain:

a) Konsep pendidikan itu bersifat abadi, karena hakikat manusia tak pernah berubah.

b) Inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan mahluk manusia yang unik, yaitu kemampuan berpikir.

c) Tujuan belajar ialah mengenal kebenaran abadi dan universal.

d) Pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya.

e) Kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar (basic subjects).


5) Pragmatisme dan Progresivisme

     Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan 

progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.Progresivisme yaitu perubahan untuk maju. Manusia akan mengalami perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya berdasarkan pemikiran. Progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasarkan diri pada beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut:

a) Anak harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar.

b) Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.

c) Guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.

d) Sekolah progresif harus merupakan sebuah laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan ekperimentasi.

6) Rekonstruksionisme

     Rekonstruksionalisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman kemasyarakatan masa kini disekolah, tapi haruslah memelopori masyarakat kearah masyarakatbaru yang diinginkan. Dan dalam pengertian lain.Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.


2.Landasan Sosiologis

  Manusia yang hidup berkelompok, sesuatu yang terjadi dengan yang lain sama halnya hewan, tetapi pengelompokan pada manusia lebih rumit dari pada hewan. Pada wayan Ardhan hidup berkelompok pada hewan memiliki ciri: Pembagian pada anggotanya, Ketergantungan pada anggota, Ada kerjasama anggota, Komunikasi antar anggota, Dan adanya diskrimunasi antara individu satu denan yang lain dalam kelompok Pengertian tentang landasan sosiologi adalah dimana suatu proses interaksi antar dua individu, bahakan dua generasi dan memungkinkan generasi muda untuk mengembangkan diri. Sehingga melahirkan cabang cabang sosiologi antara lain sosiologi pendidikan dan ruang lingkup yang di pelajari antara lain:

a. Hubungan pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari:

1) Fungsi pendidikan dalam kebudayaan

2) Hubungan sisitem pendidikan dan proses kontrol sosiala dengan sstem kekuasaan lain.

3) Fungsi pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan kebudayaan.

4) Hubungan antar kelas social

5) Fungsional pendidikan formal yang mencakup hubungan dengan ras,kebudayaam dan kelompok kelompok dalam masyarakat.

b. Masyarakat indonesia sebagai landasan sosiologi sistem pendidikan nasional (sisdiknas)

1) Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama anatara lain:

2) Adanya interaksi antar warga warganya

3) Pola tingkah laku yang diatur adat istiadat, hukum dan norma yang berlaku.

4) Adanya rasa identitas yang mengikat pada warganya.


3. Landasan Kultural

      Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbale balik, sehingga kebudayaan dapat dilestarikan/dikembang dengan jalan mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara informal maupan formal.

       Pengertian tentang Landasan Kultural merupakan sebuah kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, dan dalam belajar arti luas dapat berwujud:

a. Ideal seperti ide, gagasan, nilai dan sebagainya.

b. Kegiatan yang berpola dari manusia dalam masyarakat, dan

c. Fisik yakni benda hasil karya manusia.

        Seperti yang di kemukakakan sisdiknas, yaitu pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia, dimana kehidupan masyarakat indonesia 

yang majemuk dan akan kaya kebudayaannya dan keberadaan semua itu semakin kukuh. Oleh karena itu, kebudayaan nasional haruslah dipandang dalam latar perkembangan yang dinamis, seiring dengan semakin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sesuai dengan asas Bhinneka Tunggal Ika.


4. Landasan Psikologis

         Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang 

pendidikan. Pada umumnya landasan psikologis dari pendidikan tersebut terutama tertuju pada pemahaman manusia, khususnya tentang proses 

perkembangan dan proses bel

   Pengertian Landasan Psiklogis merupakan pemahaman peserta didik utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan faktor keberhasilan untuk pendididkan. Dalam maksud itu, Psikologimenyediakansejumlahinformasi/kebutuhan tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi.

        Seperti di kemukakakn teori A. Maslow kategori kebutuhan menjadi enam kategori meliputi:

a.Kebutuhan fisiologis: kebutuhan memmpertahankan hidup (makan, tidur,istrahat dan sebagainya).

b. Kebutuhan rasa aman: kebutuhan terus nenerus merasa aman dan bebas dari ketakutan.

c. Kebutuhan akan cinta  dan pengakuan: kebutuhan rasa kasih sayang dalam kelompok.

d. Kebutuhan akan alkuturasi diri: kebutuhan akan potensi potensi yang di miliki.

e. Kebutuhan untuk mengetahui dan di pahami: kebutuhan akan berkaitan dengan penguasaan iptek .

      Perkembangan peserta didik sebagai landasan psikologis perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi (pertemuan ovum dan sperma) sampai saat kematian, sebagai perubahan maju (progresif) ataupun kadangkadang kemunduran (regresif). Salah satu aspek dari pengembangan manusia seutuhnya adalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian, utamanya agar dapat diwujudkan kepribadian yang mantap dan mandiri.


  Meskipun terdapat variasi pendapat, namun dapat dikemukakan beberapa prinsip umum kepribadian. Disebut sebagai prinsip prinsip umum karena prinsip tersebut yang dikemukakan dengan variasi tertentu dalam berbagai teori kepribadian. Prinsip itu akan tampak bervariasi pada kepribadian manusia tertentu (sebab: kepribadian itu unik)Terdapat dua hal kepribadian yang penting di tinjau dari konteks 

perkembangan kepribadian, yakni:


a. Terintegrasinya seluruh komponen ke dalam struktur yang teroganisir secara sistematik.

b. Terjadi tingkah laku yang konsisiten dalam menghadapi lingkungan.



5. Landasan Ilmiah dan Teknologis

      Seperti yang kita ketahui, iptek menjadi bagian utama dalam isi pengajaran; dengan kata lain, pendidikan sangat berperan penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek.

     Pengertian tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah terdapat beberapa istilah yang perlu dikaji agar jelas makna dan kedudukan 

masing-masing yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi. Pengetahuan (knowledge) 

adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara pengindraan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi, dan wahyu.

 Perkembangan Iptek sebagai Landasan Ilmiah. Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Bukti historis menunjukkan bahwa usaha mula bidang keilmuan yang tercatat adalah oleh bangsa Mesir purba, dimana banjir tahunan sungai Nil menyebabkan berkembangnya system almanac, geometri dan kegiatan survey.

    Berdasarkan sumber perolehannya,landasan pendidikan bisa dikategorikan kedalam beberapa jenis,yaitu sebagai berikut :


1. Landasan religius pendidikan

     Landasan religius pendidikan diambil dari nilai-nilai religi kegamaan dan kepercayaan.Landasan pendidikan disusun dengan mengambil konsep pendidikan yang ada dan diajarkan dalam agama, sehingga landasan pendidikan yang ada harus selaras dengan agama yang kepercayaan masyarakat.


2. Landasan filosofis pendidikan   

    Yakni nilai-nilai filosofis yang dijadikan standar tolok ukur dalam suatu sistem pendidikan.Nilai-nilai filosofis ini tergantung dari apa yang dipercaya sebagai pandangan hidup dalam masyarakat yang bersangkutan.Di Indonesia sendiri, landasan filosofis pendidikan harus mengcu pada nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan negara.


3. Landasan ilmiah pendidikan

    Yaitu konsep atau teori yang diambil dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dan mempengaruhi proses dan praktek pendidikan tersebut. Misalnya, ilmu psikologi, sosiologi, dan sebagainya.


4. Landasan yuridis atau landasan hukum pendidikan

    Yakni landasan pendidikan yang mengacu pada konsep atau teori yang berasal dari peraturan perundang-undangan yang berlaku.Landasan pendidikan yang disusun tidak boleh bertentangan dengan hukum dan peraturan yang ada.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian Landasan Yuridis Pendidikan

3. Fungsi Landasan Pendidikan 

   Dapat di simpulkan bahwa fungsi Landasan pendidikan antara lain:

1. Sebagai pijakan utama yang kokoh dan adil untuk memastikan keadilan    pendidikan seperti dalam landasan hukum pendidikan.

2. Barometer utama untuk memastikan kualitas pendidikan yang terarah sesuai dengan kebutuhan dan tujuannya.

3. Landasan perlindungan hukum untuk menjaga keadilan dan kemerataan pendidikan.

4. Perlindungan fungsi pendidikan pada pakemnya agar tidak disalahgunakan untuk hal yang tidak baik.

5. Sebagai acuan atau tolak ukur atau acuan konsep dan tori bagi setiap pendidik dalam praktik pendidikan .

6. Sebagai konsep atau cara pandang dan bersikap dalam melaksanakan tugas pendidikan .

7. Sebagai motivator dalam menemukan dan menggali konsep-konsep pendidikan.

8. Mendorong pemikir kritis terhadap teori-teori pendidikan sehingga bisa memilah mana yang bisa dipraktikkan dan dikembangkan dalam proses pendidikan .

9. Membentuk pola pikir dan pola kerja dalam praktek belajar mengajar. 

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pendidikan Karakter adalah


DAFTAR PUSTAKA

Rasid,Abdul.2018. Implikasi Landasan-landasan Pendidikan .Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman.1 (1):1-15

https://jurnal.alhamidiyah.ac.id/index.php/al-fikrah/article/view/20(diakses tanggal: 01 Juni 2018)

Yanuarti,Eva.2020.Landasan Pendidikan.Pengertian,tujuan dan jenisnya,https://haloedukasi.com/landasan-pendidikan.

Dosenpendidikan.2014.Landasan Pendidikan.https://www.dosenpendidikan.co.id/landasan-pendidikan/(diakses tanggal:25 Otober 2020)

Thabroni,Gamal.(2020).LandasanPendidikan,Pengertian,Fungsi,Tujuan,Jenis.dsb.https://serupa.id/landasan-pendidikan-pengertian-fungsi-tujuan-jenis-dsb/(diakses tanggal : 25 Oktober 2020).


https://haloedukasi.com/landasan-pendidikan



Baca juga: artikel Landasan Pendidikan adalah

https://www.dosenpendidikan.co.id/landasan-pendidikan/





































































Sabtu, 02 Januari 2021

PERAN NU DI INDONESIA

 

Peran Nahdlatul Ulama ( NU ) DI Indonesia Sebelum dan Setelah Kemerdekaan


(Gambar.1: pustakakompass.com)

   Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam disingkat NU, adalah sebuah organisasi besar Islam di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak dibidang  pendidikan, sosial, dan ekonomi. Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialam oleh bangsa Indonesia, akibat dari penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi.

    Semangat Kebangkitan memang terus meyebar kemana-mana setelah rakyat bangsa ini sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai tanggung jawabnya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan. Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, Seperti Nahdltul Wathan( Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan istilah “Nahdlatul Fikri” (Kebangkitan pemikiran),sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian  didirikan Nahdlatul Tujjar, (Pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.

   Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu , maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang dibeberapa kota. Barangkan komite dan berbagai organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama NU (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926).


           (Gambar 2). K.H Hasyim Asy’ari

Sumber: wawasansejarah.com

   Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar. Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini., maka K.H. Asy’ari merumuskan kitab  QaNUn Asasi  ( prinsip dasar ), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawentahkan  dalam khittah NU.Yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam befikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan, dan politik. Pendiri Nahdlotul Ulama 1. Riwayat Hidup Tidak ada pertentangan dalam sejarah  perdirinya NU, bahwa tokoh pendirinya adalah KH. Muhammad Hasyim Asy'ari, beliau adalah ulama yang luar biasa. Hampir seluruh kyai di Jawa mempersembahkan gelar " Hadratus Syekh" yang berarti " Maha Guru". Beliau lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqo'dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M di desa Gedang, 2 Km sebelah utara Kota Jombang. Ayah beliau bernama Kyai Asy'ari,  berasal dari Demak, Jawa Tengah. Ibu beliau bernama Halimah, putri dari Kyai Ustman pendiri pesantren Gedang yang terkenal mampu menarik santri-santri dari seluruh pelosok Jawa pada akhir abad XIX. Sedangkan kakeknya adalah Kyai Sihah seorang pendiri pesantren Tambak Beras.

   Dilihat dari garis keturunan, beliau termasuk putra seorang pemuka agama yang berkedudukan baik dan mulia di masyarakat, bahkan jika di telusuri dari garis keturunan ibu maka beliau termasuk keturunan ke sepuluh dari Prabu Brawijaya VI ( Lembu Peteng) melalui garis keturunan sebagai berikut : Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambo  bin Pangeran Banawa bin Joko Tingkir alias Karebet bin Prabu Brawijaya VI ( Lembu Peteng). Beliau wafat pada 03:45 malam, 7 Ramadhan 1366 H pada umur 79 tahun, bertepatan pada tanggal 25 Juli 1947 di pesantren Tebuireng Jombang, setelah menerima utusan Bung Tomo dan Jend. Soedirman untuk meminta nasihat dan melaporkan perkembangan agresi militer I Belanda yang dipimpin oleh General SH. Spoor dan berhasil menduduki Singosari Malang.

    Pendidikan dan Pengabdiannya Semenjak masih kanak-kanak Muhammad Hasyim dikenal cerdas dan rajin belajar, pikiran beliau yang cerdas menyebabkan beliau mudah mempelajari ilmu-ilmu agama semisal Tauhid, Fiqih, Tafsir, Hadist dan bahasa Arab, sedemikian cerdasnya hingga beliau mampu membantu ayah beliau mengajar para santri yang jauh lebih tua, ketika beliau berumur 13 tahun.

   Kemauan yang keras untuk mendalami ilmu agama, menjadikan diri Muhammad Hasyim sebagai musafir pencari ilmu. Selama beberapa tahun beliau berkelana dari pondok kepondok lain. Mula-mula ke pondok Wonokoyo, Probolinggo, kemudian pindah ke pesantren Langitan, tuban, kemudian ke pesantren Trenggilis, lalu ke pondok Kademangan-Bangkalan-Madura, setelah itu ke pesantren Siwalan-Panji-Sidoarjo. Setelah puas menimba ilmu di Jawa beliau meneruskan pendidikannya ke Makkah di bawah bimbingan guru-guru besar terkenal seperti Syeh Ahmad Khatib, Syeh Nawawi dan Syeh Mahfudz at Tarmizi, beliau bertiga adalah ulama Indonesia yang menempati posisi terkemuka sebagai guru besar terkemuka di Makkah. Pengabdian beliau untuk agama dan bangsa tidak pernah di ragukan lagi, bahkan pada masa kolonial Jepang, mereka mendata bahwa kyai yang terlahir dari Tebuireng sebanyak 25000 kyai (pada tahun 1942).

Sumbangan beliau dalam membangkitkan semangat Nasionalis dan Patriotisme tidaklah dapat di ukur dengan harta dan angka. Karena sikap dan sifat kepahlawanan dan ke-ulamaan beliau, maka tidak henti-hentinya pemerintah kolonial Jepang berusaha membujuknya. Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang utusan Jepang yang membawa hadiah berupa emas dan perak dengan tujuan agar beliau bersedia membantu Jepang, tetapi beliau menolakya, dan hal itu terjadi beberapa kali dengan cara yang berbeda, seperti masalah 'Saikere' dalam Jepang.

                   Sumber:https://crcs.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/455/2017/10/nu-dan-pancasila-768x505.jpg

(Gambar 3.NU dan Pancasila)


    Peran NU Sebelum dan Setelah Kemerdekaan Indonesia 1. NU Pada Masa Kolonial Sejarah Indonesia mencatat perkembangan baru setelah Maret 1942 bala tentera 'Dai Nippon' menggantikan kedudukan Belanda. Pada mulanya kedatanggan 'saudara tua' ini disambut dengan mesra oleh bangsa Indonesia. Tetapi, kemesraan itu segara hilang mereka mengetahui bahwa Jepang tidak lebih baik dari Belanda, mereka justru kejam, brutal, dan tidak segan-segan membuNUh orang yang di anggap membangkang. Jenderal pertama Jepang di Jawa, Letnan Jendral Imamura- melarang semua aktivitas organisasi bentuk apapun.

    Kegiatan organisasi hanya  dilakukan jika telah melapor dan mendapat izin dari Jepang, apabila tidak maka di anggap membangkang dan hukuman berat segera dijatuhkan. Larangan semacam ini sama artinya membunuh aktivitas organisasi sosial keagamaan maupun politik di Indonesia, tidak terkecuali Partai Syarikat Islam Indonesia. Hal ini dilakukan dengan dalih sedang berkecamuknya perebutan daerah jajahan antar Jepang dan Belanda di berbagai tempat di Indonesia, seperti di Surabaya, Balikpapan, Tarakan, Makasar dan lain sebagainya, sehingga pemerintah Jepang harus mengkonsentrasikan perang melawan Belanda. Peraturan Jepang yang semacam ini tentu saja membuat gerah para tokoh agama maupun politik kala itu, dan yang lebih menderita lagi kala itu adalah para tokoh NU.

Dua bulan setelah Jepang menguasai Jawa, Rais Akbar NU, KH. Hasyim Asy'ari dan Hoofdbestuur (Pengurus Besar) NU, KH. Mahfudz Shidiq, ditangkap tentara Jepang dan di penjarakan selama sekitar empat bulan. Peristiwa penangkapan tokoh NU tersebut cukup mengemparkan dunia pesantren dan menggelisahkan warga NU, sehingga diupayakan bentuk-bentuk penyelesaian. Pada 1 Agustus 1942 para konsul NU mengadakan pertemuan di Jakarta, membahas pembelaan terhadap kedua pimpinannya yang disekap Jepang, selain itujuga disepakati tata cara menghadapi Dai Nippon secara lunak dan diplomatis. Sebab menurut pandangan NU, kemerdekaan Indonesia hanya soal waktu, sehingga perlu memanfaatkan isu kolaborasi dengan Jepang dalam bentuk apapun, guna tercapainya kemenangan akhir bagi bangsa Indonesia. Kendati NU, mau tidak mau harus bekerjasama dengan Jepang, tetapi tujuan utamanya justru untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia, dan sikap kerja sama NU bukan sikap ketergantungan kepada Jepang dan lantas dapat membeli NU, akan tetapi disitulah letak ' rule of game' menghadapi lawan atau musuh. Dikalangan NU (pasantren) dikenal dengan istilah 'YahanNU' (dalam menghadapi lawan, bukan untuk menghadapi kawan). Karena sikap 'YahanNU' inilah maka KH. A. Wahid Hasyim dan beberapa tokoh NU di Jawa Barat, Cirebon kemudian diangkat menjadi anggota legislatif buatan Jepang, Chuo Shangi-in.

Kesempatan ini digunakan beliau untuk mengadakan kerjasama dengan kelompok lain, guna membujuk Jepang agar mau mengizinkan Nahdlotul Ulama dan Muhammadiyah kembali aktif mengambil bagian gerakan keagamaan. Meskipun secara yuridis kedua organisasi itu belum pernah di bubarkan. Pembatasan dan kontrol yang tajam yang dilakuakan oleh Jepang sama artinya membunuh aktifitas organisasi besar itu. Hingga akhirnya pada September 1943 secara resmi Jepang mengizinkan dan mengakui aktifnya kembali Nahdlotul Ulama dan Muhammadiyah. Dengan bekal jabatan anggota legislatif inilah KH.A. Wahid Hasyim mulai melancarkan kontak-kontak dengan kelompok-kelompok nasionalis. Beliau juga aktif memperhatikan badan 'Tiga A' sebuah badan yang dibentuk untuk menghimpun seluruh tenaga pemimpin Indonesia guna mengarahkan rakyat membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Setelah itu badan ini berubah menjadi 'PUTERA'(Pusat Tentara Rakyat) dan pada tahun 1944 berubah menjadi Jawa Hokokai dan sebagai pimpinannya adalah KH.A. Wahid Hasyim dan Ir. Soekarno. Perjuangan Nahdlotul Ulama terus di galakan demi terciptanya kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

melalui KH.A. Wahid Hasyim Nahdlotul Ulama tidak henti-hentinya mengadakan kontak dengan para nasionalis, guna mendesak janji pemerintah militer Jepang agar segera mewujudkan janji kemerdekaan yang pernah diucapkan. Perjuangan itu berhasil gemilang hingga pada 26 April 1945 di bentuk 'Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai' atau yang lebih dikenal dengan BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan). Selanjutnya beliau juga merumuskan Dasar negara dan termasuk dalam kelompok sembilan orang yang membubuhkan tanda tangannya pada 'Piagam Jakarta' setelah proklamasi kemerdekaan dan menempati posisi sebagai Menteri Negara.

NU Setelah Kemerdekaan Apabila di zaman Jepang aktifitas NU berfokus pada perjuangan membela kemerdekaan agama, bangsa secara fisik maupun politik, maka di masa revolusi (1945-1949) lebih diperhebat lagi, NU agaknya sadar betul bahwa sejarah masih dalam proses. Meski kemerdekaan telah tercapai, pertahanan dan keamanan masih haris di jaga dengan ketat. Karena itu ketika tentara sekutu (NICA) hendak mencoba kembali mengantikan kedudukan Jepang, NU segera memanggil konsul-konsulnya se-Jawa dan Madura guna menentukan sikap terhadap NICA, dan mengeluarkan resolusi yang bernama 'Resolusi Jihad' yang sangat penting bagi sejarah revolusi 1945 dan di pimpin langsung olah KH. Hasyim Asy'ari. Resolusi Jihad ini kemudian menggema di seluruh Jawa dan Madura terutama di Surabaya.

Semangat jihad malawan tentera sekutu dan NICA membara di mana-mana. Pondok-pondok pesantren telah berubah menjadi markas Hizbullah dan Sabilillah. Suasana gegap gempita mewarnai kehidupan masyarakat yang pada dasarnya tinggal meNUggu perintah, karena itu mungkin sekali resolusi jihad itu kemudian menjadi inspirasi bagi berkobarnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang di kenal sebagai ' Hari Pahlawan'. Selain dari pada itu, tokoh-tokoh penting NU menduduki posisi penting dalam dewan pimpinan partai Masyumi Indonesia, dan ini bisa di lihatdari nama-nama yang tercantum dalam kepemimpinan Masyumi periode pertama, yang dalam strukturnya dibedakan atas dua lembaga : Pengurus Besar dan Mejeli Syura. Pengurus Besar di pimpin oleh Dr. Soekiman, Abi Koesno T, dan Wali al-Fatah, sedangkan Majelis Syura dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari, Ki Bagus Hadikusuma, KH.A. Wahid Hasyim dan Mr. Kasman Singodimejo. Peranan itu diperkuat lagi ketika partai Masyumi mengadakan muktamar di Solo pada 10-13 Februari 1946.

Dalam muktamar tersebut terjadi sedikit sekali perubahan mengenai struktur organisasi yang pada dasarnya memperkuat posisi NU dalam 'Dewan Pimpinan Partai'. Dengan demikian peran NU bukan hanya sebagai pemegang kendali dalam Masyumi, melainkan juga menentukan arah politik partai. Barang kali karena posisi penting itulah maka pada muktamar NU ke-16 di Purwokerto, 26-29 Maret 1946, perlu menegaskan: NU masuk sebagai anggota istimewa Masyumi. Bahkan lebih dari itu, muktamar juga menyerukan kepada seluruh warga NU di semua tingkatan untuk tetap aktif dalam mendukung tegaknya partai Masyumi, hingga kemudian tidak jarang dijumpai pimpinan NU di daerah merangkap sebagai pimpinan Masyumi. Selama masa perkembangan (1935-1950) NU telah melakkukan berbagai perubahan cukup berarti, baik untuk kepentingan intern NU maupun bagi kepentingan bangsa pada umumnya. Kepentingan intern, NU telah melakukan perbaikan-perbaikan dalan bidang sosial, pendidikan maupun dakwah. Bahkan sempat pula mengembangkan sayap organisasinya dikalangan kaum muda, remaja putri maupun kaum ibu, berupa organisasi Gerakan Pemuda Anshor, Fatayat NU, dan Muslimat NU, ini berarti eksistensi NU sebagai organisasi keagamaan sosial semakin kokoh. Hingga pada masa pemerintahan Soeharto, NU masih mempunyai peranan penting dalam pemerintahan. Pada tahun 1965- 1968 terdapat dua orang NU memainkan peranan yang menentukan, yaitu Achmad Sjaihu di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-GR) dan Subchan di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPRS), Subchan di angkat sebagai salah seorang Wakil Ketua MPRS, mewakili kelompok Islam (1966-1971).

NU sebagai organisasi masyarakat terbesar di Indonesia telah memainkan peranan yang penting dalam kemerdekaan dan perkembangan bangsa dan agama. Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, dan dakwah Islamiyah, NU telah memberikan banyak perubahan dan kemajuan. Semangat NU zaman dahulu hingga sekarang semestinya harus tetap tumbuh, sehingga dapat terus mewujudkan apa yang telah di cita-citakan oleh sang pendiri KH. Hasyim Asy'ari, sehingga mampu melahirkan tokoh-tokoh bagi perubahan bangsa yang lebih baik, jika pada zaman dahulu beliau mampu 'menelurkan' 25000 kyai, maka bukanlah hal yang sulit bagi NU sekarang untuk melahirkan cedekiawan-cendekiawan muslim yang mampu membawa agama dan bangsa ini untuk menjadi lebih baik.



Daftar Pustaka :

Putriana pima.2016.Peran NU Di Indonesia Sebelum Dan Setelah Kemerdekaan. Diakses Rabu, 18 mei 2016.

Anam. Choirul,Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama,( Jatayu Sala,1985, Cetakan Petama)

Feillard.Andre,NAHDLATUL ULAMA vis-à-vis Negara,(Yogyakarta:LKIS: 1999).  

Dari link:

-http://wartasejarah.blogspot.com/2016/05/peranan-nu-di-indonesia-sebelum-dan.html? 

-http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama.

- http://choirul-alquds.blogspot.co.id/2013/02/peran-nahdlotul-ulama-di-indonesia.html


Bacajuga:Aswaja dan Ke-NU-an, Menuju Muatan Lokal Nasional


Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/101527/aswaja-dan-ke-nu-an-menuju-muatan-lokal-nasional


APA ITU CANVA dan Fungsinya ?